Jumat, 24 Agustus 2018
#Dukun_Beranak
Author: Noor jihan.
Taraa...
Wardi memberi kejutan kepada istrinya, semangkuk soto betawi sudah terhidang di meja, komplit dengan irisan jeruk limau, sambal dan emping.
Harumnya sangatlah menggodaTati, yang memang sedang mengidamkan soto buatan suaminya.
Dengan mata berbinar Tati tersenyum menatap hidangan di meja makan. Kemudian duduk dikursi menakar nasi ke dalam piring, dan melahapnya bersama soto sampai tandas tak tersisa.
"Enak?!" Tanya Wardi. "Hhmm lezat Mas," jawabnya dengan tersenyum manis.
Tati kekenyangan, rebah di balai kayu yang dilapisi anyaman tikar, sambil mengusap perut buncitnya yang tinggal menunggu hari, kelahiran anak pertama.
Sementara itu Wardi membereskan piring, dan membawanya ke belakang untuk di cuci.
Wardi memang senang memasak, apalagi semenjak istrinya hamil. Ia kerap membuatkan apa saja yang diminta sang istri.
Pandangannya menerawang dengan sambuk kelapa yang penuh dengan sabun ditangan,Wardi memikirkan darimana ia dapat uang untuk istrinya melahirkan?, sementara pekerjaannya hanya kuli sambatan.
Kadang membantu tetangganya mengalap daun dan buah melinjo, yang upahnya juga tidaklah seberapa.
Jika sedang bernasib baik Wardi di ajak pakde nya untuk membantu menjadi kenek bangunan.
tapi sudah hampir lima bulan Wardi nganggur, pekerjaan yang rutin sekarang ini hanyalah mengalap buah dan daun melinjo.
Beberapa hari yang lalu. Tati merengek minta dibuatkan soto,dan Wardi mengumpulkan uang hanya untuk membeli seperempat kilo daging, demi membahagiakan istrinya.
"Bagaimana nanti aku melahirkan Mas?" kita tidak memiliki simpanan.." Sambil menggelendot di lengan suaminya yang kekar.
Wardi tidak menjawab,ia termenung sambil mengerjap-ngerjapkan mata.
Dengan lembut dia mengusap perut istrinya.
"Sayang kamu ga usah khawatir," di desa sebelah ada seorang dukun, yang sudah terampil dan sudah puluhan tahun menolong orang melahirkan dengan ikhlas.
Beliau menerima berapa saja upah yang diberikan,bahkan dia menolak apabila pasien yang sangat sederhana memberi upah. Insya Allah besok aku menemuinya, sambil mengusap kepala Tati dan mengecupnya dengan penuh cinta.
******
Pagi itu Tati bolak balik ke kamar mandi seperti ingin buang air kecil,tapi tidak lancar, ingin buang air b***r tidak bisa, ia gelisah dan sesekali meringis merasakan perutnya yang mulai kontraksi.
"Aduuh.." Mas Wardi kemana sih..."
Mas..!" "Aduuh..."
Wardi tergopoh-gopoh masuk kedalam rumah biliknya mendengar erangan Tati. Kamu sudah mau melahirkan sayang?!"
"Cepat mas," susul dukun itu!" sambil memegang perutnya.
"Iya "Iya.." kamu bertahan ya." Lalu Wardi cepat berlari menuju kampung sebelah dengan sepeda ontel nya.
Ya Allah.. mana hari sudah hampir gelap, dia berjanji semalam dengan Tati mau survey dukun itu, tapi ada saja kerjaan yang di kerjakan pagi tadi.Wardi pun harus melewati hutan untuk sampai ke kampung sebelah.
Hujan rintik mengiringi kepergian Wardi menemui dukun beranak, dia mengayuh sepeda dengan perasaan was-was.Hawatir istrinya keburu melahirkan, "Ya Allah tolong lah istriku.." desisnya.
Daun kering dan ranting berjatuhan ke kepalanya yang basah terkena rintik hujan. Tiba-tiba dia menemui seorang Nenek diperkirakan usianya sekitar tujuh puluhan lebih.
Wajahnya terang bersinar, beliau mengenakan kebaya ungu bermotif dengan kain sarung yang sudah agak kumal. Sedang berjalan menyusuri jalan dengan bertelanjang kaki.
Lalu Wardi menghentikan sepedanya, dan bertanya kepada Nenek tersebut.
"Assalamualaikum,
"Wa'alaikumsalam"
Dengan suara gemetar beliau bertanya.
"Ada apa Cu.."
Nenek tau rumahnya bibi Suti dukun beranak yang di sebrang sana?!" Wardi menunjuk ke arah timur.
Si Nenek mengernyitkan alis sambil mengingat.
"Oh.." "Suti sudah meninggal Cu.."
Panik lah perasaan Wardi mendengar penjelasan si Nenek,
Memangnya Nenek kenal?!" Lalu Nenek menjawab dengan suara parau.
"Iya.."Cu,"
dia tetangga Nenek.
Lemas seluruh tubuhnya, Wardi cemas. Bagaimana dengan Tati?!" Gumamnya pelan.
Siapa yang mau melahirkan Cu?!"..
Istri saya Nek.." dengan mantap beliau menjawab. "Saya bisa bantu,"
Nenek itu menawarkan dirinya, tanpa pikir panjang Wardi menyetujui tawaran itu.Kemudian diboncengnya si Nenek dibelakang.
Pegangan Nek." Wardi mengayuh sepeda, dan melaju dengan cepatnya.
Akan tetapi ia merasakan ringan, seperti tidak membawa siapa-siapa dibelakangnya.Sesekali dia menoleh khawatir ada sesuatu,akan tetapi dilihatnya kain Kumal si Nenek, hati Wardi menjadi tenang.
Mereka telah sampai ke rumah, dengan setengah berlari Wardi masuk kedalam di ikuti Nenek tadi.
"Tatii.." Kemudian terlihat istrinya sedang mengejan sendirian, keringat berjatuhan seperti bulatan jagung di dahinya,Tati mengerang dan berpegangan dipan menahan sakit.
Air ketuban sudah membasahi kasur. Nenek itu dengan sigap duduk dibibir ranjang, mengangkat dan menekuk kaki Tati, membuka pahanya sampai terbuka lebar. Kemudian memberi aba-aba dan mengarahkan Tati, sambil mengusap perutnya.
Mulutnya bergerak membaca doa.Beliau mengisyaratkan Wardi untuk keluar kamar dengan isyarat dan sorot matanya yang tajam.Wardi seperti terhipnotis ngeloyor pergi.
Di depan ada Bude yang sedari tadi menunggui Tati, tadi saya kesini melihat istrimu sedang kesakitan di.."
"Iya terima kasih Bude,
"kalo ada apa-apa bilang Bude,"
"Iya Bude, tadi saya terburu-buru, sampai lupa menitipkan Tati,syukurlah Bude datang.."
Sayup terdengar suara lengkingan bayi menangis.
"Oe... Oe.. Oe.."
Binar mata Wardi menunjukkan kebahagiaan, dengan menatap Bude ia berkata, "sudah lahir" Dia mengangkat tangan, dan mengucapkan Alhamdulillah sambil mengusap wajahnya.
Bau harum gaharu bergantian dengan wewangian bunga memenuhi ruangan, sampai tercium ke ruang depan.
Bude dan Wardi langsung masuk ke kamar untuk melihat si buah hati.
Langkahnya terhenti di pintu kamar, terlihat pemandangan agak aneh. Tati sudah dalam keadaan bersih, sedang menyusui sang bayi.
Wardi terperanjat melihat istrinya.
Apakah waktu terhenti sejenak?"
Wardi dan Bude melongo.."
Lalu kemana perginya si Nenek....?!"
The end
Langganan:
Komentar (Atom)